Warteg Ala Jepang

Teknologi emang udah menjadi bagian penting di Jepang, karena di kesehariannya mereka menggunakan teknologi ini untuk membantu aktivitas sehari-harinya menjadi lebih mudah dan efisien. Mulai dari automatic ticketing machine (mesin penjualan tiket kereta) yang biasa dijumpai di eki (stasiun kereta), sampai toilet seater super canggih (lo bayangin bahkan ada tombol buat muter lagu mp3 di toilet seaternya) bahkan mesin penghitung uang dan penyimpanannya khusus buat kasir, Hal ini merupakan salah satu yang membuat gua terkesima akan Jepang, they used machine in almost all activities. 

Begitu juga dengan restoran murah yang ada disana. 


Mungkin kalo di Indonesia tipikal warteg-warteg gitu: tempatnya kecil, murah, minumnya air putih, tempat duduknya melingkari dapur tempat makan itu sendiri. Minus gabisa diutangin.


By the way, percaya ato nggak, gerai-gerai makanan Jepang yang buka cabang di Indonesia (Pepper Lunch, Yoshinoya, EVEN Coco Ichibanya Curry yang ada di GI) yang restorannya luas dan bagus, disana penampilannya sangat berbandiung terbalik: kecil, mpet-mpetan, dan minuman yang tersedia kebanyakan hanya air putih dingin. Tempatnya super kecil bahkan ada yang luasnya mungkin hanya sekitar 3 meter x 4 meter saja. Iya ruangan seukuran kamar gua bisa dijadiin restoran di jepang. 


Tempura Tendon Tenya di Nippori, di Jakarta ada di Citos


Suki-ya, restoran donburi dekat hotel - Di Jakarta ada di AEON BSD
Matsuya di Shinjuku
Matsuya di Shibuya 
Coco Ichibanya Curry di Shinjuku 

Ini dia, Pepper Lunch super sempit di Akihabara (luasnya cuma sekitar 3x4 meter)
Oke balik ke topik di atas. Bahkan, di restoran tipikal wartegnya Jepang ini, mereka sangat canggih dengan menggunakan mesin pesan makanan di depan pintu masuk. Jadi sistem makan ditempat-tempat ini seperti: Masuk >> Pesan makanan di mesinnya >> Bayar di mesinnya >> Keluar struk pesanan, ambil >> Pilih tempat duduk >> Kasih ke mas/mbak koki/pelayannya >> Makan dengan bahagia.

Mesin pesan makanan di Matsuya 
Yang ini lebih shopisticated: touch screen.

Fungsi mesin-mesin ini simply menggantikan peran kasir di restoran tersebut, dan mengurangi cetak buku menu. Dengan mesin ini juga, sistem pesan makanan lebih efisien dan higienis: lo pesen apa yang lo mau, tinggal kasih ke mas/mbaknya, dan uang lo gak kena tangan si mas sama mbak yang masak. Ya, Jepang sangat bergantung pada mesin. 

Selain karena masalah Jepang itu sempit jadi semuanya-di-mpet-mpetin, tempat yang sempit juga pada akhirnya mendorong pengunjungnya gak berlama-lama duduk disitu karena pastinya masih ada pengunjung lain yang lagi antri nungguin kita makan. Jadi kalo mau makan sambil ngobrol-ngobrol, tempat makan kayak gini kurang tepat buat dikunjungi. 

Tempat makan ini sangat cocok kalo mau hemat duit selama disana. Iya, disini itu makanannya lebih murah dibanding restoran-restoran lainnya yang tipikal restoran pada umumnya: ada pelayan, meja individu, dan sebagainya. Disini makanannya itu kisaran ¥350-¥800, dibanding sama restoran lainnya yang harganya rata-rata diatas ¥1000, disini jelas lebih murah. Buat makanannya sendiri, meskipun murah, cuma udah bisa dapet makanan-makanan yang dijamin enak


Beef Curry di Matsuya

Bahkan di Suki-ya deket hotel (tempat biasa sarapan), untuk satu set nasi-ikan salmon-miso soup-salad aja itu harganya cuma ¥450an. Lumayan kan uangnya bisa buat jajan-jajan makanan lucu lainnya disana sama beli-beli barang lainnya dan transport. Untuk pilihan minumnya sih nggak begitu beragam, dimana kebanyakan cuma memberikan air putih dingin ato nggak ocha dingin/panas. 


Tertarik buat nyobain warteg-warteg ala Jepang ini?

Comments

  1. Semakin hari teknologi semakin maju yang semakin dapat memudahkan aktivitas pengguna. Keren gan untuk pembahasannya mengenai warteg ala Jepang.Suskes terus untuk pembahasan artikjel lainnya.

    ReplyDelete
  2. Inovatif sekali berkat kemajuan teknologi, baru tau mengenai informasi ini

    ReplyDelete

Post a Comment